Perusahaan teknologi Twitter, Meta, dan TikTok didenda oleh pengadilan Moskow, Rusia, karena gagal menghapus konten yang dianggap ilegal oleh pemerintah. Denda tersebut merupakan yang terbaru dalam serangkaian hukuman terhadap perusahaan teknologi asing.

Pengadilan Distrik Tagansky Moskow mengatakan Meta telah didenda total 13 juta rubel Rusia (Rp 2,5 miliar) dalam tiga kasus administratif terpisah karena tidak menghapus konten. “Twitter didenda 10 juta rubel Rusia (Rp 1,9 miliar) dalam dua kasus, sementara TikTok menerima penalti 4 juta rubel Rusia (Rp 773 juta),” ujar pihak pengadilan akhir pekan lalu.

Moskow memang meningkatkan tekanan pada Big Tech tahun ini yang dicirikan oleh para kritikus sebagai upaya pihak berwenang untuk menggunakan kontrol yang lebih ketat atas internet dan melumpuhkan kebebasan individu dan perusahaan.

Meta, bersama dengan Google Alphabet, menghadapi kasus pengadilan akhir bulan ini karena dugaan pelanggaran berulang terhadap undang-undang Rusia tentang konten. Bahkan dapat didenda persentase dari pendapatan tahunannya di Rusia.

Selain itu, Rusia telah memperlambat perkembangan Twitter sejak Maret sebagai tindakan hukuman untuk unggahan yang berisi pornografi anak, termasuk juga informasi penyalahgunaan narkoba atau panggilan untuk anak di bawah umur untuk bunuh diri. Namun, Twitter membantah mengizinkan platformnya digunakan untuk mempromosikan perilaku ilegal.

Moskow juga menuntut 13 perusahaan teknologi asing dan sebagian besar berasal dari Amerika Serikat yang didirikan di Rusia pada 1 Januari atau menghadapi kemungkinan pembatasan atau larangan langsung. Ketiga perusahaan yang didenda pada hari Kamis ada dalam daftar itu. Namun, Twitter, Facebook, dan TikTok tidak segera memberikan komentar terkait denda tersebut.

GADGETS NDTV | TASS