TEMPO.CO, Jakarta -Gempa susulan sering terjadi setelah terjadi gempa bumi tektonik.

Adang Awaludin dalam skripsinya berjudul “Penentuan Waktu Berakhirnya Gempa Susulan untuk Gempa Bumi Biak 16 Juni 2010” di Universitas UIN Syarif Hidayatullah menulis bahwa gempa susulan adalah serentetan gempa bumi yang terjadi setelah gempa bumi besar yang dapat menimbulkan bencana.

Gempa bumi susulan biasanya terjadi di sekitar lokasi terjadinya sumber gempa bumi utama.

Rentetan terjadinya gempa susulan adalah bagian dari mekanisme untuk mencapai keadaan setimbang di tempat gempa bumi utama setelah terjadinya pelepasan energi yang sangat besar dalam waktu yang relatif singkat.

Menurut Jurnal Fisika Flux, kekuatan gempa bumi susulan bervariasi, bisa lebih kecil daripada gempa utama dan bisa juga lebih besar daripada gempa utama. Dari lima contoh yang diteliti, jurnal ini menyimpulkan bahwa kekuatan gempa susulan dapat terjadi mulai dari 0,1% hingga 33% lebih kuat dibanding kekuatan gempa utama.

Yang menarik, masih menurut Jurnal Fisika Flux, gempa bumi sesar geser atau strike-slip memiliki potensi kekuatan gempa bumi susulan yang lebih kecil. Sedangkan gempa bumi sesar naik atau thrust memiliki potensi gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar.

Gempa bumi Tasikmalaya yang berjenis sesar geser pada tanggal 2 September 2009 memiliki kekuatan gempa susulan yang lebih kecil, yaitu hanya sebesar 3,74% dari kekuatan gempa bumi utamanya.

Sedangkan gempa Pangandaran pada 17 Juli 2006 yang berjenis sesar naik, gempa susulan memiliki kekuatan 33,05% lebih besar dari pada kekuatan gempa bumi utamanya.